Mygind59hardy's website

Our website

19
Ja
Pengertian Aqiqah Menurut Kepercayaan Islam
19.01.2017 05:49


Dari segi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya lembut binatang secara penyembelihan ini. Ada yang mengatakan bahwa aqiqah ialah nama untuk hewan yang disembelih, dinamakan demikian sebab lehernya dipotong Ada pula yang menyebarkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang ditemui pada kepala si bayi ketika ia keluar dari rahim pangkal, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk bocah yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, atau 21. Jumlahnya 2 termuda untuk momongan laki-laki serta 1 kontrol untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Mulai Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Semua anak budak tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi sebutan dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan 2 kambing yang serupa dan bayi perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak itu tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih satwa untuknya dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dijalankan karena kemunculan bayi, oleh sebab itu sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gelaran darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Atas ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW sempat ber ‘aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ke-7 mulai kelahirannya, sira memberi identitas dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran daripada kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak perkara 4, hal. 264]

Pemberitahuan: Hasan & Husain adalah cucu Rasulullah saw SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Hasan, dia berkata: Rasulullah bertitah: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, & al-Baihaqi]

Mulai Abu Buraidah r. a.: Aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, atau keempat belas, / kedua puluh satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Norma Aqiqah Anak adalah sunnah (muakkad) pantas pendapat Kepala Malik, penduduk Madinah, Kepala Syafi'i dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama ulung fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai per kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai jasad yang sunnah muakkadah merupakan hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya saat hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan siram darinya selekeh (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Sidang: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah titah, namun tidak bersifat tetap, karena tersedia sabdanya yang memalingkan mulai kewajiban adalah: “Barangsiapa diantara kalian ada yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Bubuk Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan pendapat yang menjungkalkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Raja berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh di aqiqah berikut hewan yang picak, mersik, patah urat, dan nyeri. Imam Asy-Syafi’iy berkata: Serta harus dihindari dalam hewan aqiqah berikut cacat-cacat yang tidak diperbolehkan di dalam qurban.

Buraidah berkata: Dulu kami di masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kambing dan menconteng kepalanya dengan darah kambing itu. Oleh sebab itu setelah Tuhan mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) penyelenggara si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Bubuk Dawud perkara 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang saat masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang balita, mereka menconteng kapas secara darah ‘aqiqah, lalu pada mencukur serabut si budak mereka melumurkan pada kepalanya”. aqiqah bandung Maka Rasul SAW berfirman, “Gantilah sundut itu dengan minyak wangi”.[HR. Ibnu Hibban dengan tartib Putra Balban juz 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah pikir kesepakatan karet ulama merupakan hari ketujuh dari kelahiran. Hal ini berdasarkan hadits Samirah pada mana Nabi SAW berfirman, “Seorang anak terikat secara aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh & diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dilaksanakan pada hari ke-14. Meski tidak juga, maka dalam hari ke-21 atau kapan saja ia mampu. Imam Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) untuk dasar permintaan, maka sekiranya menyembelih saat hari ke 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah pas. Karena pijakan ajaran Agama islam adalah memudahkan bukan mengalutkan sebagaimana firman Allah SWT: “Allah mengorek kemudahan bagimu dan bukan menghendaki ketegangan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berdasar pada sabda Rasul SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, & dishahihkan sebab At Tirmidzi)

Dan kalau tidak mampu melaksanakannya saat hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan saat hari di empat belas, dan jikalau tidak dapat, maka saat hari ke dua puluh satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah mulai ayahnya atas Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih saat hari ketujuh, ke 4 belas, serta ke 2 puluh satu. ” (Hadits hasan sejarah Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga ahad masih bukan mampu dipastikan kapan saja pelaksanaannya pada kala telah mampu, karena pelaksanaan dalam hari-hari ke tujuh, di empat belas dan di dua persepuluhan satu ialah sifatnya sunnah dan paling utama tak wajib. Dan boleh pun melaksanakannya sebelum hari ke tujuh.

Bocah yang menyisih dunia pra hari ketujuh disunnahkan pula untuk disembelihkan aqiqahnya, terlebih meskipun bayi yang keluron dengan tumpuan sudah berusia empat hari di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si budak. Namun bila seseorang yang belum pada sembelihkan fauna aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, jadi dia bisa menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan: Dan bila tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal ini tidak apa-apa menurut saya, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di hari ketujuh dari kelahiran. Jika tidak bisa, maka pada hari keempat belas kasihan. Dan jika bukan bisa agaknya, maka di dalam hari ke-2 puluh tunggal. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Namun demikian, bila ternyata saat kecil ia belum diaqiqahi, ia mampu melakukan aqiqah sendiri pada saat mantap. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Kepala Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah saat besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Kepala Ahmad menyangkal, “Menurutku, apabila ia belum diaqiqahi begitu kecil, maka lebih elok melakukannya sendiri saat kuat. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga menyangka demikian. Menurut mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh manusia tuanya, disarankan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal merupakan satu ekor baik untuk laki-laki / pun untuk perempuan, sesuai perkataan Putra Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan dan Husain satu domba tunggal domba. ” (Hadits shahih riwayat Serbuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus tegak bahwa Patut dan Husain adalah keturunan kembar. Oleh karena itu pada satu kelahiran ini disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih superior adalah dua ekor untuk anak laki-laki dan 1 termuda untuk budak perempuan berdasar pada hadits-hadits dibawah ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menyabdakan agar dsembelihkan aqiqah dari anak laki-laki 2 ekor sedia dan mulai anak dara satu sudut. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan tersebut agar disembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki dua ekor sedia yang seimbang dan daripada anak dara satu sudut. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang bani

1. Disunnatkan untuk memberi nama & mencukur rambut (menggundul) di hari ke-7 sejak hari iahirnya. Misalnya lahir di hari Ahad, ‘aqiqahnya tanggal pada hari Sabtu.

dua. Bagi anak laki-laki disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor kambing sedang bagi anak cewek 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, tapi boleh juga dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah itu hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Cantik Mentah Atau Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan dalam kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor kambing untuk bani dan mono ekor kibas untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Uci-uci aqiqah diberikan kepada tetangga dan gelandangan miskin pula bisa diberikan kepada orang2 non-muslim. Apalagi jika hal itu dimaksudkan untuk memikat simpatinya serta dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah panduan Allah, “Mereka memberi makan orang rendah, anak yatim, dan tahanan, dengan prinsip senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, terpidana pada saat itu ialah orang-orang membelot. Namun demikian, keluarga pun boleh membersihkan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memandang apakah lelaki atau puan, sebagaimana hal di lembah ini:

Dari Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia relasi bertanya mendapatkan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak cewek satu kontrol kambing. Bukan menyusahkanmu elok kambing itu jantan ataupun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum mendapatkan dalil lainnya yang menampakkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Tenggat yang dituntunkan oleh Rasul SAW berdasar pada dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 dari kelahiran budak tersebut. [Lihat kaidah riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian uci-uci Aqiqah

Akan halnya dagingnya maka dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, serta mensedekahkan beberapa lagi. Syaikh Utsaimin mengatakan: Dan gak apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat dan tetangga untuk menyantap target daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada umat islam, dan mahir mengundang teman2 dan macam untuk menyantapnya, atau boleh juga dia mensedekahkan seluruhnya. Syaikh Rumpun Bazz mengatakan: Dan kamu bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya ataupun sebagiannya dan memasaknya lalu mengundang orang-orang yang kamu lihat sedang diundang atas kalangan nenek, tetangga, teman2 seiman dan sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, & hal sebagai dikatakan sebab Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Bani

Tidak diragukan lagi bahwa ada sangkut paut antara definisi sebuah seri dengan yang diberi nama. Hal tersebut ditunjukan secara adanya sejumlah nash syari yang menyarankan hal tersebut.

Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Allah mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 & Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menanggapi sunah, ia akan memperoleh bahwa makna-makna yang terkandung dalam identitas berkaitan dengannya sehingga seumpama makna-makna ini diambil darinya dan seolah-olah nama-nama ini diambil atas makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui konsekuensi nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits di bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang terhadap Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku balas: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama pemberian bapakku” Rumpun Al-Musayyib berkata: “Orang ini senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, penamaan yang bagus untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang bagus yang ranggi diberikan merupakan nama rasul penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana ceramah beliau: Daripada Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau mempergunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Agama islam, silahkan faksi:

Memberi Sebutan Bayi / Anak Berdasar pada Islami


Memotong Rambut

Menjatuhkan rambut ialah anjuran Rasul yang super baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru mengembol pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terpukau dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi identitas, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Kepala Malik memberitahukan bahwa Fatimah menimbang ukuran rambut Rancak dan Husein lalu sira menyedekahkan argentum seberat sabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau gak. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut kudu dilakukan beserta rata; gak boleh seharga mencukur sebagian kepala dan sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- bertambah besar agaknya sedekahnya.

Ciri Menyembelih Satwa Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan sebutan Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) dari Muhammad serta keluarga Muhammad serta atas ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bocah baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk keturunan ini dengan kalimat Yang mahakuasa Yang Baik dari seluruh gangguan syaitan dan seloroh binatang dan gangguan sorotan mata yang dapat menuntun akibat melorot bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Islam sebagaimana dilansir di 1 buah situs punya beberapa hikmah diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW dalam meneladani Nabiyyullah Ibrahim PASAK tatkala Tuhan SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Dalam aqiqah berikut mengandung unsur perlindungan dari syaitan yang dapat meniadakan anak yang terlahir tersebut, dan itu sesuai dengan makna hadits, yang memiliki arti: “Setiap bani itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Jadi Anak yang telah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terlindung dari gangguan syaithan yang sering meranyau anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud oleh Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai sebab aqiqahnya”.

3. Aqiqah yakni tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak di dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Kepala Ahmad menunjukkan: “Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat untuk kedua orang2 tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus sebagai wujud rasa syukur kepada karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah serupa sarana menunjukkan rasa makmur dalam menjalankan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukminat yang bakal memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah mendindingi ukhuwah (persaudaraan) diantara bangsa.

Dan tetap banyak lagi hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Create your free website at Beep.com
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!